Home Silat Membawanya Ke Kampus
Silat Membawanya Ke Kampus PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 14 July 2009 17:39

Beberapa tahun silam ada seorang anak laki-laki kurus dengan tinggi berkisar 160 cm mendatangi sekumpulan orang yang sedang latihan beladiri pencak silat.Dengan keberanian anak itu menghampiri seorang pelatih yang bertubuh gempal ” tanya seorang anak laki-laki saya ingin ikut latihan “ setelah pertanyaan itu keluar dari mulut seorang anak,lalu seorang pelatih menjelaskan semua persyaratan untuk menjadi seorang  murid di perguruan pencaksilat tersebut.Akhirnya pulanglah sambil membawa beberapa lembar kertas yang di pegang tangan kanannya.Seminggu kemudian tepatnya hari kamis anak tesebut mendatangi lapangan tempat latihan di mana tempat itu masih dalam lingkungan sekolahnya Dengan semangat anak itu dia datang setengah jam lebih awal dari calon teman-teman barunya.Beberapa lama kemudian datanglah murid-murid perguruan silat tersebut,ternyata ada beberapa yang sudah kenal dengan anak itu.Dengan canda dan tawa sebelum di mulainya latihan tesebut, membuat anak lelaki itu merasakan dia lebih cepat bersosialisasi.

Sebelas bulan sudah  dia bergabung di perguruan silat tersebut,dengan kemampuan yang dia miliki dia berhak mewakili sekolahnya untuk mengikuti kejuaran Pencak silat seJabotabek,panitia kejuaran tersebut  adalah salah satu kampus yang ada di DKI Jakarta.Sangat disayangkan dikejuaran itu anak tersebut,  tidak bisa memberikan yang terbaik buat sekolah dan dirinya.Dengan kegagalan itu membuatnya lebih giat latihan untuk meraiha di kejuaran-kejuran yang ada di depan sana.Aktifitas anak tersebut kembali normal dan mengikuti latihan yang dilakukan seminggu dukali.Tapi terlihat semangat yang dilakukan anak tersebut dalam melakukan fisik dan olah jurus sangat  berubah diasat sebelum mengikuti kejuaraan.Enam bulan setelah kejuaran pertama yang di ikuti anak tersebut akhirnya ada kejuran yang berjenjang untuk menjadi wakil Jakarta barat.Sebelum Menuju kesana semua SMU sederajat mengikuti seleksi agar dapat menjadi team junior Jakarta Barat.Dengan susah payah anak tersebut akhirnya dia berhasil masuk  menjadi team junior Jakarta barat.Setelah itu dia harus mengikuti TC yang di adakan olah IPSI Jakarta Barat.Dikejuaran ini dia bisa merebut poin menjadi juara ketiga di kelasnya.Setelah itu dia mengikuti kejuaran yang bergengsi yang diadakan oleh Kampus Mercu Buana dia akhirnya dapat Beasiswa di kampus tersebut.

Dengan  Beasiswa yang dia dapatkan dari Mercu Buana pun, tidak pernah terlintas di pikiran  anak laki-laki tersebut untuk bisa kuliah karena dia sadar bahwa dia terlahir dari orang biasa saja dan bukan orang berlebihan secara ekonomi “ wong bapak saya saja hanya seorang office Boy ( OB ) salah satu perusahaan yang ada di jakarta “ tutur kata anak laki itu dengan lantang.Dengan pengarahan dan masukan dari seoarang senior pelatih di perguruan dimana dia berlatih beladiri akhirnya dia berani mengutarakan hal ini terhadap orang tuanya tentang keberhasilanya mendapatkan Beasiwa dari kampus Mercu Buana.Hal ini disambut dengan ceria oleh kedua orang tuanya,terlihat dari raut wajah anak laki-laki tersebut kehawatiran biaya bapak anak tersebut wenjawab “ kamu harus kuliah walaupun saya harus jual motor “ itu perkataan dari seorang ayah yang menginginkan dan mengambil momen baik agar anaknya dapat kuliah.

Melihat dari cerita ini saya ingat dengan cerita film “ Si Doel Anak Betawi “ dengan keberadaan ekonomi dan kultur  orang tuanya dia tekat menjadi seoarang Sarjana yang dapat di banggakan oleh orang tuanya.Mudah mudahan Anak laki-laki ini dapat menjadi “ Si Doel anak Office Boy “ yang dapat menyelesaikan kuliahnya dengan keberadaan dan ekonomi yang sangat pas-pasan dan membuat karier pencak silatnya bias menambah lebih cemerlang dan pada saatnya bias mendapatkan dua gelar.

Kami hanya ini menyampaikan buat kaula muda bahwa ambil intisari dari ketekunan seorang anak laki itu, tidak pernah membanyangkan dia bisa kuliah bahwa dia sadar betul dengan perekonomian orang tuanya akhirnya  terjawab lah dengan kenyataan.Kita bisa lihat di sini bahwa bentuk kegiatan yang sifatnya positif akan kita nikmati akhirnya.Sedangkan untuk seorang bapak yang memiliki anak apa pun bentuk pekerjaan dan penghasilan yang kita miliki,tinggi tidaknya jabatan kita besar tidaknya pendapatan kita.Satukan tekat dan pikiran untuk memberikan pendidikan anak yang lebih tinggi karena anak adalah infestasi yang kita miliki.